Pertikaian antara Amerika Serikat dan China yang telah berlangsung selama berbulan-bulan akhirnya menunjukkan tanda-tanda mereda setelah pertemuan antara kedua negara di Jenewa, Swiss. Kesepakatan yang tercapai mencakup pemotongan tarif impor selama 90 hari ke depan, dengan AS mengurangi tarif dari 145% menjadi 30%, dan China menurunkan tarifnya dari 125% menjadi 10%. Presiden Trump menganggap perjanjian ini sebagai langkah pertama menuju kesepakatan dagang yang lebih adil.
Setelah kesepakatan pemotongan tarif antara AS dan China, serta meredanya ketegangan geopolitik antara India-Pakistan dan Rusia-Ukraina, kondisi ekonomi global mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kenaikan pasar saham global dan penguatan dolar juga mengurangi minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Harga emas dunia tercatat mengalami penurunan signifikan sebesar 2,7% pada 14 Mei 2025, stagnan di sekitar Rp1.662.947 per gram, setelah sebelumnya mencatatkan rekor harga sekitar Rp1.800.740 per gram.
Meskipun demikian, pelaku pasar diperkirakan tetap akan memburu emas ketika harga terkoreksi, mengingat ketidakpastian ekonomi yang masih berlanjut. Meski beberapa ketegangan global seperti pemotongan sementara tarif AS-China, konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Asia Selatan mulai mereda, ketidakpastian tetap mengancam pasar global. Setiap potensi konflik baru atau peningkatan ketegangan lama bisa memicu lonjakan permintaan terhadap emas sebagai aset yang aman. Selain itu, penurunan inflasi yang berkelanjutan dapat mendorong Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga acuan lebih cepat dari yang diperkirakan. Langkah ini berpotensi melemahkan dolar, sehingga membuat emas lebih menarik bagi investor global karena harganya menjadi lebih terjangkau dalam mata uang lokal.
Tren pembelian emas oleh bank sentral dunia masih terus berlanjut di berbagai negara, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah. Langkah ini memperlihatkan kepercayaan jangka panjang terhadap emas sebagai pelindung nilai, sekaligus memberikan dukungan terhadap stabilitas harga logam mulia ini.
Secara keseluruhan, faktor-faktor seperti risiko ekonomi, ketegangan geopolitik, pembelian besar oleh bank sentral, dan fluktuasi nilai tukar dolar memberikan dukungan signifikan terhadap prospek harga emas di masa depan. Koreksi harga emas yang terjadi belakangan ini bisa jadi merupakan fase konsolidasi sebelum harga emas melanjutkan reli jangka panjangnya.
Reference :