Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) belakangan ini mengalami pelemahan yang cukup signifikan meskipun sempat mengalami penguatan sementara. Hal ini diperparah setelah lembaga pemeringkat kredit internasional dalam melunasi utangnya, Moody’s Rating menurunkan rating U.S. dari Aaa menjadi Aa1 pada 16 Mei. Berbagai kebijakan Donald Trump, seperti kenaikan pajak impor dan rencana undang-undang pajak skala besar, diperkirakan bisa menambah beban utang negara AS hingga $3 hingga $5 triliun. Ketidakpastian soal kebijakan Trump ini membuat investor khawatir, dan banyak yang mengalihkan dananya ke emas.yang menyudutkan The Fed untuk menurunkan suku bunga, ditambah dengan inflasi yang belum terkendali, membuat investor semakin khawatir. Pasar bahkan memperkirakan pemangkasan suku bunga bisa terjadi dua kali lagi di 2025. Kondisi ini mendorong banyak investor meninggalkan dolar dan beralih ke emas yang dikenal lebih aman dan stabil.
“Pasar masih penuh ketidakpastian, terutama setelah Moody’s menurunkan peringkat utang AS. Kondisi ini jelas menjadi angin segar bagi harga emas,” ujar David Meger dari High Ridge Futures kepada Reuters. Dari sisi teknikal, emas berhasil menembus level resistance di $3.250–$3.260 dan bergerak stabil di atas $3.300. Indikator teknikal juga menunjukkan momentum yang kuat dan membuka peluang kenaikan $3.400-$3.500 dalam waktu dekat.
Dolar AS yang melemah akibat tekanan terhadap dolar AS, didukung dengan fundamental dan teknikal yang solid membuka ruang bagi harga emas untuk terus menguat dalam jangka pendek ini. Jika sentimen pasar tidak berubah, bukan tidak mungkin harga emas akan menembus level $3.500 kembali dalam waktu dekat. Investor yang melakukan investasi di bidang emas disarankan untuk terus memantau dinamika pasar global agar bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu ini.
Reference :