Emas Naik Tajam Lagi! Trump Lagi-Lagi Jadi Pemicunya?

Amerika Serikat dan China mulai menunjukkan sinyal positif menuju kesepakatan dagang, salah satunya ditandai dengan keputusan Presiden Trump mencabut aturan pembebasan bea masuk (de minimis) terhadap barang-barang impor bernilai kecil asal China. Meski dampaknya dinilai minim — hanya sekitar USD 5 miliar nilai impor tahun lalu, analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan nilai tukar terhadap dolar AS akan menguat.

Sentimen positif ini mendorong asumsi penguatan mata uang dan melemahnya harga emas karena pelaku pasar global mulai berani kembali berinvestasi pada aset yang lebih berisiko dan hal ini diansumsikan akan menahan bahkan melemahkan laju penguatan harga emas lebih lanjut.

Namun tak disangka, harga emas yang telah tertekan selama dua pekan kembali melonjak 1% ke level Rp1.782.000 per gram pada 6 Mei. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya permintaan untuk aset safe haven, setelah kebijakan Trump yang mengumumkan tarif 100% bagi film impor guna melindungi industri kreatif AS, serta rencana penerapan pajak untuk sektor farmasi dalam dua minggu mendatang.

Di sisi lain, pelaku pasar kini menanti keputusan kebijakan moneter dari The Federal Reserve serta pernyataan beberapa pejabatnya. Meskipun tekanan dari Presiden Trump untuk memangkas suku bunga terus berlanjut, The Fed diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan pekan ini.

Meskipun ada harapan dari kesepakatan dagang AS-China yang mulai terlihat, ketidakpastian global tetap menghantui pasar. Kebijakan Trump yang terus mengubah lanskap perdagangan internasional, ditambah dengan keputusan The Fed yang belum pasti, membuat pergerakan harga emas tetap volatile sehingga Sobat harus tetap waspada dan selalu memantau berita terbaru.

Shopping Cart