Setelah sempat ditangguhkan selama 90 hari, nasib tarif Trump akan ditentukan pada 9 Juli 2025. Meski Indonesia bukan sasaran utama, dampaknya diperkirakan menjalar ke berbagai sektor dalam negeri. Berikut adalah potensi dampaknya dari dua skenario yang berbeda secara rinci:
1. Ekspor & Impor Indonesia
Jika tarif impor global diteruskan, permintaan ekspor Indonesia diperkirakan menurun, terutama dari negara-negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa. Impor Indonesia berpotensi menjadi lebih mahal dan terhambat. Meski menantang, kondisi ini justru bisa mendorong pertumbuhan industri lokal sebagai substitusi barang impor, memperkuat kemandirian ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Sebaliknya, jika tarif global dihentikan, maka perdagangan internasional diperkirakan akan kembali stabil. Permintaan ekspor bisa meningkat, harga komoditas membaik, dan rantai pasok global kembali lancar. Namun, dengan terbukanya keran impor, Indonesia berisiko dibanjiri produk konsumsi impor murah yang berpotensi melemahkan daya saing industri dalam negeri jika tidak diimbangi dengan kebijakan protektif.
2. Risiko Rupiah Melemah & Volatilitas Pasar
Jika tarif Trump tetap diberlakukan, nilai tukar rupiah berpotensi melemah karena investor asing cenderung menarik dananya menuju negara-negara dengan iklim investasi yang lebih aman seperti Jepang. Kondisi ini bisa mengguncang pasar saham Indonesia, menyebabkan IHSG menurun dan memperbesar arus keluar modal asing. Hal ini tak hanya merusak stabilitas pasar, tetapi juga dapat memaksa Bank Indonesia untuk turun tangan. Sebaliknya, jika tarif Trump dibatalkan, maka tekanan eksternal terhadap Indonesia cenderung berkurang. Rupiah berpotensi lebih stabil, pasar keuangan menjadi lebih tenang, dan kepercayaan investor global terhadap Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Hal ini memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan terjaganya arus modal masuk.
3. Konsumen Indonesia: Harga Bisa Naik
Jika tarif Trump diteruskan, harga barang impor diperkirakan akan naik tajam. Hal ini terjadi karena biaya produksi global meningkat serta nilai tukar rupiah melemah, membuat barang-barang impor menjadi lebih mahal dan dapat menggerus daya beli masyarakat dan mempercepat laju inflasi di Indonesia jika tidak diimbangi kebijakan yang tepat, masyarakat berpenghasilan rendah akan paling terdampak akibat penurunan akses terhadap barang-barang kebutuhan pokok maupun sekunder.
Sebaliknya, jika tarif dibatalkan, maka harga barang impor akan lebih stabil. Rupiah berpotensi menguat, dan konsumen dalam negeri bisa kembali menikmati harga yang lebih terjangkau untuk berbagai produk kebutuhan. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, mendorong belanja rumah tangga, serta menjaga stabilitas inflasi nasional
Keputusan tarif Trump pada 9 Juli 2025 bukan hanya akan menentukan arah hubungan dagang global, tapi juga akan memberi efek riak ke berbagai aspek ekonomi Indonesia — dari perdagangan luar negeri, stabilitas pasar keuangan, hingga daya beli masyarakat.
Apapun hasilnya, Indonesia perlu bersiap untuk menghadapi tekanan global maupun menangkap peluang yang muncul. Strategi jangka pendek harus dilengkapi dengan langkah jangka panjang seperti memperkuat industri lokal, menjaga kestabilan rupiah, dan meningkatkan daya saing nasional agar Indonesia tidak hanya jadi penonton dan mampu bertahan di tengah dinamika perdagangan global, sekaligus tampil sebagai pemain aktif dalam perekonomian dunia yang semakin kompetitif.