Kementerian Perdagangan China baru-baru ini mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah menghubungi Beijing untuk membahas masalah tarif perdagangan. Meski negosiasi terbuka, China menekankan bahwa AS harus menunjukkan “kesungguhan” dengan menghapus tarif sepihak dan mengakhiri kebijakan yang dianggap tidak adil.
Optimisme pasar meningkat setelah pernyataan dari Trump yang menyebutkan adanya “peluang besar” untuk mencapai kesepakatan dagang, tidak hanya dengan China, tetapi juga dengan negara-negara Asia lain seperti India, Jepang, dan Korea Selatan.
Namun, berbeda dengan kabar positif tersebut, harga emas tampak melanjutkan tren penurunan, diperdagangkan sekitar $3.230 per ons pada hari Jumat (2/5/2025). Menghapus sebagian besar kenaikan yang tercatat di pertengahan minggu, penurunan ini mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven, seiring dengan meredanya ketegangan perdagangan antara AS dan China.
Selain itu, data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan dampak pada pergerakan harga emas. Produk domestik bruto (PDB) AS tercatat mengalami kontraksi pada kuartal pertama 2025, menandakan potensi pelemahan ekonomi yang perlu diperhatikan. Fokus pasar kini beralih pada laporan Non-Farm Payroll (NFP) yang akan dirilis pada hari Jumat mendatang. Data ini dianggap sangat penting karena dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di masa depan.
Apabila NFP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja yang lemah, The Fed kemungkinan akan menunda kenaikan suku bunga, yang bisa memberikan dorongan pada harga emas. Sebaliknya, jika data tenaga kerja menunjukkan angka yang kuat, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi terhadap pengetatan moneter dan menekan harga emas lebih lanjut.